NABI MUSA YANG RAGU AKAN KEADILAN ALLAH SWT


Terkadang ada masa dimana kita merasa tuhan tidak adil, kita mempertanyakan hakikat tuhan di atas bumi ini.

Ternyata perasaan itu dan tanya itu juga pernah dirasakan dan di pertanyakan oleh Nabi Musa pada zamannya dahulu.

Dan di blog kali ini, aku akan membagikan percakapan Nabi Musa dan Allah SWT ketika ia galau akan keadilan dan keberadaan Allah SWT.

Alkisah, dahulu Nabi Musa ketika menunggu kitab Taurat yang diwahyukan kepadanya, ia diminta untuk menunggu selama 40 hari di bukit Tursina dimana ada kejadian besar terjadi. 

Nabi Musa berkata "Ya Allah, aku ingin sekali melihat keadilanmu", kemudian Allah mengutus Jibril menemui Musa.

 "Ya Musa, Tuhanmu Berkata "kau tidak mampu, kau tidak akan bisa sabar melihat keadilan Allah bila dalam kejadian langsung, kau tidak akan sabar menunggu keadilan itu"

Musa pun menjawab "saya akan berusaha bersabar dengan Taufik yang diberikan Allah".

Baiklah Allah setuju dan Nabi Musa pun diperintahkan untuk pergi ke salah satu mata air untuk duduk dari kejauhan tanpa melakukan apapun hanya diam saja menunggu.

Tak lama kemudian ada seorang pria menunggangi kuda yang berhenti di mata air itu untuk minum karena kehausan, selesai ia minum dia kembali menaiki kuda untuk pergi namun ia tidak sadar telah menjatuhkan sekantong uang dari pinggang sebelah kirinya.

Setelah itu ada orang kedua yang datang ke mata air itu seorang anak kecil yang mengisi tempat air miliknya dan ia melihat sebuah kantong terjatuh disitu ia ambil lalu kemudian ia pergi.

Setelah anak itu datang orang ketiga yakni seorang kakek tua yang buta hendak mengambil air wudhu dan shalat di pinggir mata air itu.

Ternyata orang pertama tadi seorang pria penunggang kuda tadi kembali ke mata air itu untuk mencari kantong uang miliknya, ia bertanya kepada sang kakek buta

"hey kakek tua apa kau melihat kantong uang milikku?"
"Aku orang buta tentu aku tidak melihat" kata si kakek buta
"Jangan berbohong, ini padang pasir tidak ada siapapun disini selain dirimu" lalu kemudian si penunggang kuda tadi menebas leher sang kakek karena tersulut emosinya.

Nabi Musa yang sedari tadi menyaksikan seluruh kejadian itu merasa tidak kuat dan tidak sabar lagi karena ia mengetahui seluruh kejadian yang ada, Nabi Musa pun memohon kepada Allah SWT untuk menghentikan seluruh kejadian ini karena ia tak mampu bersabar.

Jibril pun datang menjelaskan kepada Musa As ternyata..

"Ya Musa tentu engkau berpikir bahwa anak kecil itu adalah sumber masalah yang menyebabkan si kakek kehilangan nyawanya dan si penunggang kuda kehilangan uangnya, Tapi sebenarnya anak kecil itu tidak bersalah ya Musa.

Bagaimana maksud mu wahai Jibril?

Ya Musa sesungguhnya yang terjadi adalah ayah dari si anak kecil itu adalah budak dari sang penunggang kuda yang tidak pernah dibayar hingga ayahnya mati dibunuh oleh orang lain dan jumlah uang yang ada didalam kantong itu sama dengan jumlah gaji milih ayahnya yang tidak dibayarkan oleh sang penunggang kuda.

(Tentu kita mengetahui bahwa harta warisan yang ditinggalkan oleh orangtua yang sudah wafat akan jatuh kepada anaknya, maka uang itu halal dimiliki si anak kecil itu).
Itulah bentuk keadilan Allah kepada ayah dari si anak kecil itu.

Lalu Musa bertanya lalu bagaimana keadilan Allah kepada kakek tua yang buta itu??

Jibril menceritakan bahwa orang yang membunuh ayah dari si anak ini adalah kakek yang buta itu, maka Allah membalas kejahatan nya dahulu dengan mengambil nyawa nya melalui cara dibunuh juga..

Namun Allah tetap memberikan ganjaran surga pada sang kakek buta itu karena ia telah bertaubat dan iapun mati dalam keadaan syahid karena berada dalam wudhu dan hendak melaksanakan shalat di pinggir mata air tersebut.

Nabi Musa tersadar bahwa sesungguhnya Allah itu sangatlah adil namun manusia punya keterbatasan atas sabar nya.

Jika kita pikirkan berapa lama proses keadilan itu baru terjadi kepada mereka!

namun intinya adalah keadilan Allah SWT itu sungguh ada didunia ini dan pasti semuanya akan mendapatkan keadilan itu tanpa terkecuali, hanya saja kita sebagai manusia punya keterbatasan.

Dan itulah pelajaran yang bisa kita ambil untuk bermusahabah tidak meragukan keadilan Allah dan menyadari keterbatasan kita sebagai manusia dalam hal kesabaran.

Terimakasih sudah membaca
Thank u..
SIGNATURE : Mr.Fa'ad

Postingan populer dari blog ini

KUTIPAN BUKU "MAAF TUHAN AKU HAMPIR MENYERAH"

ANOREXIA NERVOSA

6 CIRI INNER CHILD